Home > Pemilu > Alasan Golput

Alasan Golput

Belakangan ini marak isu golput (golongan puyeng tenan atau pusing sekali). Diradio, televisi, dan bahkan di pengajianpun marak kenapa orang mau golput. Mungkin orang udah puyeng kali ya’ soalnya mau pilih wakil rakyat, eh… malah wakil rakyatnya ketahuan korupsi, ketahuan selingkuh dan diadukan sama lawan selingkuhnya yang merasa tidak diakui sebagai istri yang sah, sampai kepleset penget pijat di tempat panti pijat. Panti pijat memang sudah terkenal dengan asumsi mesum, walau apapun alasan sang pasien ingin pijat.

Kembali ke masalah golput, kalau pusing milih wakil rakyat yang ga bisa dipercaya, ya sebaiknya gak usah ngajak orang lain lah, seperti ajakan gusdur yang juga dah pusing mikirin para calon anggota DPR atau para petinggi partai yang ngomong seenaknya tanpa mempertimbangkan apakah omongannya ntar bisa dilaksanain apa enggak kalau si calon udah bener-bener jadi wakil rakyat atau pemimpin, walaupun gusdur sendiri juga suka ngomong seenak perutnya, mungkin karena gusdur udah mampu melihat hal yang belum terjadi atau akan terjadi. Persis seperti sikap nabi Idris yang membunuh anak yatim dan cuek aja sambil minta jangan banyak nanya, ketika ditanya sama nabi Musa.

Perdebatan MUI tentang haramnya golput, karena MUI juga memiliki kepentingan dengan suksesnya pemilu, seperti melupakan alasan utama dibalik kemungkinan maraknya golpu pada Pemilu 2009 nanti.

Alasan golongan memilih golput antaralain;

Pertama, alasan ekonomi yang intinya sebagian kalangan yang memilih gilput sudah semakin sadar, bahwa Pemilu termasuk Pilkada, tidak menjanjikan kesejahteraan apapun bagi rakyat. Bagi mereka, selama ini terpilihnya para wakil rakyat, kepala daerah atau presiden dan wakilnya yang serba baru tidak membawa perubahan apa-apa yang bisa dedikit saja meningkatkan kesejahteraan rakyat. Padahal alasan masyarakat untuk memilih adalah sederhana, yaitu begitu mereka mencoblos atau mencentang, maka kemudian kesejahteraan mereka bisa menjadi lebih baik dengan pemerintahan terpilih, sebagaimana disampaikan oleh pengamat politik J. Kristiadi. Sedangkan kenyataannya bahwa Kompas 2/2/2009, menemukan adanya ruang yang sangat luas dan terkadang manipulatif antara Pemilu dan kesejahteraan itu.

Kedua, alasan ideologis, bagi calon pemilih yang golput dengan alasan ini, Pemilu tidak pernah menjanjikan perubahan apapun. Pasalnya, demokrasi (pemilu) hanya semakin mengokohkan sekularisme. Padahal sekularismelah yang selama ini menjadi biang dari segala krisis yang terjadi. Sekularisme sendiri merupakan “akidah” yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Sedangkan menurut masyarakat muslim, sekularisme telah nyata menjauhkan syariah Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan masyarakat (ekonomi, politik, pendidikan, peradilan, sosial, dll). Padahal masyarakat Indonesia yang muslim sesungguhnya menyetujui penerapan syariah Islam itu di negeri ini. Hal ini telah dibuktikan oleh survei yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga survei seperti PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2001), Majalah Tempo (2002), Roy Morgan Research (2008), LSM Setara ( 2008 ) dll. yang rata-rata menunjukkan bahwa 70-80% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan syariah Islam dalam negara.

Tapi rasanya tidak masuk akal kalau orang mengerti atau paham tidak mau memilih (golput), lah ntar kalau orang-orang yang tidak mengerti atau sarat dengan kepentingan kelompoknya sendiri yang milih, sedangkan yang dipilih adalah calon-colon yang tidak amanah, wah… kan… yah malah repot toh…. karena nanti kebijakan negara akan keluar dari orang-orang yang tidak amanah, bisa bahaya khan…

menurut saya sih… lebih baik milih aja walaupun milihnya yang terbaik diantara yang yang kurang baik, tapi minimal dapat meminimalisir kecurangan berkembang dinegari yang katanya kaya tapi rakyatnya miskin ini, kecuali hanya segelintir orang saja yang mampu membeli rumah dengan harga mulai dari 2 milyar sebagaimana yang ditawarkan terus menerus oleh PT Agung Sedayu Group di tengah kondisi perekonomian yang katanya sulit.

Seharusnya ada kontrak politik antara calon wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya. Jika ternyata sang calon tersebut tidak mampu membuktikan janjinya yang digemborkan dalam kampanye maka colon tersebut harus punya rasa malu dan mundur dari wakil rakyat, karena sudah tidak mampu lagi menjadi wakil rakyat. Soalnya masih banyak (menurut saya) manusia Indonesia yang dapat memikul amanah dan punya rasa malu jika tidak berhasil, bukanya malah larut dengan sistem korup yang berkembang di parlemen yang katanya institusi terhormat , namun masih diisi oleh orang-orang tidak terhormat dengan segala kecurangannya yang ditemukan oleh para penyidik KPK.

Dan juga para elite partai seharusnya tidak usah gerah atau marah-marah ketika ada anggota (anak buahnya) di DPR yang mengaku menerima uang suap. Ciri manusia terhormat adalah membuktikan isu dengan kebenaran yang sarat dengan fakta-fakta, bukan dengan emosi dan memecat anggotanya yang ingin berbuat jurur. Keep accountibility in all public institution.

Categories: Pemilu
  1. March 28, 2009 at 3:52 am

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

  2. gilang mahardika
    March 28, 2009 at 7:32 pm

    jiahahaha… aku hanya bisa tertawa om.. bahkan MUI pun terlihat menggelikan..😀
    golput bukan hanya suatu pilihan.. tetapi juga suatu gerakan.. memang banyak cara lain untuk memulai pergerakan… tapi untuk saat ini golput adalah PILIHAN terbaik..
    yahh,, sebagai manusia kita jangan munafik lah.. sog2 gag taw permainan mereka.. berubah lah demi bangsa ini,, kliatan banget indonesia udah murka.. berapa banyak musibah lagi buat buka mata kalian… hhh

  3. budi2k
    March 29, 2009 at 7:11 am

    Trim’s sdr. dir88gun atas link ulasan sunnah-nya, yang saya herankan kalau pemilu dengan pemilihan presiden itu mengandung ketidakbenaran maka harus ada alternatif untuk menentukan wakil rakyat dan pemimpin negara. karena tidak mungkin sebuah negara tanpa wakil. untuk saat ini baru pemilu yang diakui sebagai sarana penentuan para wakil rakyat dan pemimpin negara. walaupun demokrasi menurut saya mengandung bahaya jika pendapat yang lebih banyak adalah pendapat yang menyimpang dari aturan Allah subhanahu wata’ala atau Tuhan semua manusia. bisa dibayangkan jika para penentang aturan “islami” yang memiliki suara terbanyak di negeri pancasila ini, sebagaimana terjadi disebuah negara di Afrika (yang saya lupa namanya) yang karena sangat mempercayai demokrasi sebagai sarana pemilihan para wakil rakyat, maka lambat-laun hingga sampai sekarang negara itu dipimpin oleh pemimpin bukan “islami” yang saya tidak yakin apakah kepemimpinannya bisa bersikap universal atau memihak….. semoga indonesia dengan pendukuk yang sangat beragam ini dapat dipimpin oleh pemimpin yang benar2 “islami” sehingga bisa melindungi seluruh rakyat tanpa melihat agama yang dianut, sehingga dapat memberikan ketenangan dan keamanan terhadap pemeluk agama selain islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bi Khaththab ketika memasuki kota al Quds (Yerussalem/Iliya) sebagai berikut; “Inilah Janji perlindungan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amirul Mukminin kepada penduduk Iliya, yaitu kemanaan bagi diri mereka, harta benda, gereja-gereja, salib-salib serta segala keperluan peribadatan mereka. Bangunan gereja mereka tidak akan diduduki, dirobohkan ataupun dikurangi luasnya, diambil salib-salibnya atau apapun dari harta benda mereka. Tidak pula mereka akan dipaksa meninggalkan agama mereka atau diganggu dengan suatu gangguan dan tidak akan dibolehkan dari kaum Yahudi bertempat tinggal di Iliya bersama mereka”. (lihat Tarikh Thabari, jilid III hal. 609). Satu-satunya yang diminta oleh Islam adalah mereka mampu menenggang perasaan kaum muslimin dan menjaga kesucian agama Islam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: