Home > Edukasi, Politis&Politik > Pendidikan Gratis

Pendidikan Gratis

Iklan pendidikan gratis yang selalu ditayangkan di televisi membuat banyak masyarakat merasa lega, namun dengan tidak terbuktinya pendidikan gratis di beberapa daerah membuat banyak mahasiswa melakukan demo untuk menuntut pendidikan murah(gratis).
Seharusnya ada kesepahaman antara mahasiswa (pendemo pendidikan gratis) dengan pemerintah (depdiknas)sebagai pihak pelaksana (penanggungjawab) pendidikan gratis.
Tentukan mana yang murah dan sosialisasikan pada masyarakat terus-menerus, sehingga tidak terjadi masyarakat yang kecewa karena kalau menuntut pendidikan murah (apalagi) gratis lantas si anak yang sekolah di sebuah sd, smp, sma, smk serta merta dipersulit oleh pihak sekolah; termasuk tidak diberi tanda peserta ujian dan kalau orang tuanya melakukan protes maka tentu ada usaha membuat sulit bagi si anak untuk mengikuti proses belajar
Tentukan mana yang gratis dan sosialisasikan juga terus menerus pada masyarakat, sehingga tidak terjadi trik-trik yang dilakukan oleh pihak sekolah (termasuk Komite Sekolah) yang tentunya sepengatuan / persetujuan sang Kepala Sekolah untuk menaikkan biaya pendidikan SD dari 20ribu (sebelum dapat dana BOS) menjadi 40ribu (setelah mendapat dana BOS) sehingga akhirnya tetapsaja siswa harus membayar SPP 20ribu perbulan.
Sosialisasikan juga bahwa pendidikan gratis hanya untuk yang tidak mampu, sehingga pendidikan menjadi tanggung jawab bersama itu dipahami oleh semua masyarakat dan tidak hanya Pendidikan gratis yang hanya menjadi konsumsi kampanye para Partai Politik saja untuk melanggengkan kekuasaannya.
Kenegarawanan para pejabat negara harusnya ditularkan dan disosialisaikan pada masyarakat seluruhnya dengan tidak hanya menyuruhnya memilih dalam pesta demokrasi saja, tanpa mempedulikan kalau ada beberapa daerah otonom (sekolah otonom) yang tidak mau melaksanakan program pendidikan gratis (murah). Bukankah pendidikan gratis itu berujung pada berkurangnya pendapatan para guru (kesejahteraan) sehingga bagi daerah yang otonom (sekolah yang otonom) lebih baik menentukan sekolah harus bayar daripada harus mengurangi pendapatan perbulannya (soalnya gaji dari pemerintah / yayasan) dirasakan tidak cukup sehingga pendapat para penguasa otonom (pengelola sekolah otonom) membuat biaya pendidikan mahal tidak masalah, toh para orang tua juga terpaksa mau, kalau toh tidak mau ya biarlah anaknya disekolahkan ke sekolah yang gratis (dengan disertai pelayanan pendidikan yang juga gratis alias kurang bermutu)……….

Categories: Edukasi, Politis&Politik
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: