Home > Edukasi, Politis&Politik, Teknologi > Masterplan Kurikulum dan Pendidikan Geratis

Masterplan Kurikulum dan Pendidikan Geratis

Berbicara kualitas pendidikan tidak terlepas dari “Masterplan Kurikulum & Arah Pendidikan Nasional” . Ada tidak ya hal tersebut dalam pendidikan di negari ini? Bagaimana dengan buku pelajaran yang saling berbeda dari tahun ke tahun, sehingga kesannya buku pelajaran tahun sekarang bisa dijadikan bungkus kacang tahun depan, kalau sudah begini bagaimana dengan anak dari keluarga yang tidak mampu ya untuk mendapatkan hak akses pada sebuah buku panduan untuk kecerdasan kelak?… hhhmmm…

Yah… ini khan seperti gaya lama untuk mendapatkan proyek pengadaan buku, sehingga buku2 untuk tahun berikutnya sudah beda2 halamannya walaupun isinya sama, tapi kalo siswa sekolah dasar kan jadi bingung kalo halamannya beda. apa memang ini disengaja biar setiap tahun siswa yang katanya geratiiis , tetep harus beli buku, walapun buku punya kakak kelas masih ada dan bisa digunakan.. pemerintah harus ikut campur dengan serius supaya buku bisa digunakan minimal 5 tahun kedepan. walaupun sudah ada buku elektronik bse diknas, tapi para guru sangat sedikit yang mau pake buku dari bse….. apa sih masalah sebenarnya???

Belum lagi ditambah dengan ditemukannya buku ips yang telah diedarkan oleh diknas dengan nama file kelas04_sd_ips_tantya.pdf yang ternyata halamannya pada berantakan (dari hal. 1 s/d 20) yang muncul halaman ganjil semua, sehingga dari hal. 19 langsung hal. 21, begitu juga dari hal. 170 s/d 210 yang muncul juga halaman ganjil semua, padahal sudah didistribusikan ke sejumlah sumber termasuk sourcenya kang onno, telkomspeedy, dan di bse sendiri sampai saat postingan ini ditulis, semuanya menyimpan file-file judul buku tersebut yang halamannya berantakan. Seharusnya kan ada petugas yang mem-verifikasi sebelum beredar, ini masalah nasional loh…. kok menampilkan yang berantakan, apa kata dunia!!!

Mungkin kekacauan halaman ini juga jadi penyebab guru pada malas pake buku dari bse, selain gratis tentunya…. karena imbas dari gratis, kata sebagian besar guru2 mulai dari sd sampai sma/smk yang saya temui mulai dari beberapa di jawabarat, sumatera dan sulawesi, menjadi penyebab turunnya kualitas pendidikan, karena sekolah sudah tidak mampu lagi membiayai kegiatan yang biasanya dilakukan sebagai ekstrakulikuler disekolah…….

Ditambah lagi dengan perencanaan pembangunan di sebuah smpn di ciputat/cirendeu yang tidak tepat. Yaitu dengan pemungutan yang sangat jauh berbeda dengan hanya berjarak satu periode penerimaan, dengan cara memungut sekitar 3 juta untuk sumbangan pendidikan disekolah pada tahun anggaran 2008, sementara pada tahun anggaran 2009 sekolah hanya meminta sumbangan pendidikan sejumlah 1,5 juta saja. Apakah ini karena desakan walimurid pada tahun anggaran tersebut sehingga perbedaanya mencapai 2kali lipat, bagaimana sekolah membuat perencanaan anggaran yang demikian dapat membuat kecemburuan orang tua siswa???

source: http://forum.kompas.com/showthread.php?p=592100#post592100

Bahka menurut saya harus ada petugas survey untuk menentukan mana yang layak dapat gratis (BOS / BSE) dan mana yang tidak, agar tidak sia-sia program pemerintah yang telah dibuat yang juga menggunakan anggaran rakyat (pajak) pada saat rapat penentuannya dengan bapak-bapak di dpr sana. Supaya yang bisa membayar ya tetap membayar, sedangkan yang tidak mampu juga harus mendapatkan haknya untuk ikut menerima pendidikan dengan baik dan tidak menjadi korban kebijakan BOS maupun buku geratis, hanya karena tidak tepat sasaran.

Tapi pengawasan ini juga merupakan hal yang sangat memberatkan, karena buktinya bapak presiden (SBY) dan bapak ketua MA (Hendarman S) tidak bisa menjamin anak buahnya untuk bertindak dengan benar, karena yang mengawasi mereka selanjutnya hanya dirinya sendiri dan Allah Yang Maha Melihat, tapi para aparat keadilan telah sengaja menganggap Allah itu tidak melihat (na’udzubillahi min dzalik) dengan cara memainkan rasa keadilan rakyat, bahkan bertindak seperti wayang, sedangkan dalangnya adalah orang2 berduit yang ingin selamat dari jeratan hukum yang mereka pikir Indonesia masih bisa dibeli hukumnya (ternyata terbukti, khan…) walau sekarang telah menjadi pertentangan antara Cicak (KPK), Buaya (POLRI) dan Godzilla (MA)

Semoga para pemimpin kita baik Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab, karena “yang melihat dan memantau hanya Allah saja”, kata SBY dan Hendarman

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: