Home > Edukasi, Politis&Politik > Pejuang Kebijakan melawan Mafia Hukum

Pejuang Kebijakan melawan Mafia Hukum

SBY terheran-heran, kok mafia ada dipenegak hukum yang harusnya jadi panglima dalam menegakkan keadilan, bahkan para mantan pegawainya yang menggeliat dengan cara menunjukkan keganjilan/keracunan institusi yang pernah dihuninya yang sedang terkena virus Markus, sedang diburu(diadili) oleh pejuang yang sedang melindungi kesucian institusinya, dengan cara menjatuhkan hukuman mati (sebagaimana yang dilakukan oleh Cirus Sinaga) yang tidak mampu menghadirkan barang bukti yang vital sebagai bukti bahwa tersangka (Antasari) yang menjadi otak pembunuhan Nasrudin.

Hal senada juga sedang dilakukan oleh Susno Duadji yang tengah mati-matian berusaha menunjukkan keganjilan yang ada di tubuh Polri. Bahkan Susno Duadji sampai rela mengorbankan pekerjaannya (bahkan mungkin diri dan keluarganya) demi membongkar virus Markus yang telah menginveksi institusi penegak hukum.
Mampukah sang pejuang keadilan (kebijakan) melawan sebuah institusi besar yang dari dulu telah terkenal sebagai institusi penegak hukum yang dianggap suci dari segala kekotoran (virus). Tentunya hanya pribadi yang ikhlas juga yang mampu membuktikannya tentunya dengan bantuan masyarakat peduli hukum yang tidak ditunggangi kepentingan pribadi dan kelompok, namun menginginkan kejelasan dan kebenaran hanya dari rahmat Yang Maha Kuasa, tapi bukannya yang maha kuasa yang ada di setiap institusi (yang biasanya punya kepentingan tidak tulus).

Kita perhatikan keinginan presiden SBY dalam menegakkan hukum, sampai-sampai mengorbankan besannya sekaligus mertua dari anaknya, walaupun sang besan tentunya tidak salah sendirian, tapi pasti ada kesalahan sistem (yang terisnveksi virus rakus/memperkaya diri) yang akibatnya mengorbankan seseorang.
Jangan sampai hal-hal tersebut diatas semakin banyak terjadi dan mengorbankan orang per orang. Tentunya dengan menyiapkan sistem handal yang mempersempit/menutup kemungkinan terinveksi virus markus (keinginan SBY).

Kebebasan penyampaian aspirasi yang dibuka sejak jaman Gusdur hingga SBY merupakan tonggak terciptanya keadilan di negeri tercinta ini. Kita bisa bayangkan bahwa ketidak-adilan sesungguhnya sudah biasa terjadi sejak dulu, namun tidak banyak sumber berita yang berani mengungkapkan. Bayangkan juga dengan terbukanya informasi ini, semakin menunjukkan banyaknya virus-virus mavia keadilan yang menginveksi institusi hukum, secara perlahan terkuak dan akan terbukti, walaupun tentunya memakan korban dengan mempertaruhkan nama baik sebuah institusi hukum.

Namun sebagaimana kita tahu bahwa SBY tidak seberani Gusdur. Tentu kita ketahui, bahwa Gusdur seorang pluralis yang membela minoritas, sedangkan SBY seorang negarawan yang banyak menggunakan strategi dalam mengelola pemerintahan.

Kalo Gusdur jengkel, makan DPR disebut sebagai taman kanak-kanak (mungkin kini PAUD). Sedangkan SBY jika jengkel dengan tak berfungsinya institusi hukum, bukan dengan membubarkan atau mengkerdilkan institusi hukum, tetapi ditangggapi dengan membuat Watimpres, kemudian membuat Satgas Mafia Hukum untuk mengetahui sesungguhnya ada dimana penyakit yang sedang mengganggu institusi hukum yang ada. Ini tentu sebuah langkah yang berhati-hati, karena tidak mudah membubarkan institusi hukum yang telah sesuai dengan aturan namun tidak mampu menunjukkan fungsi aturan, hanya karena terinfeksi virus mafia hukum.

Perjuangan ini memang bukan pekerjaan ringan, karena telah menjangkiti lembaga secara merata (jaman dulu disebut korupsi berjama
ah). Wah gawat kalau begini jadinya, istilah jama’ah itu biasanya digunakan untuk berbuat kebaikan, tapi bisa juga digunakan oleh pejuang kejahatan (virus rakus bin markus). Namun kesulitan ini tidak boleh ditanggapi dengan emosi apalagi dengan cara teroris, karena sesungguhnya perjuangan itu harus dengan ikhlas dan sabar, karen ini semua adalah ujian, untuk mengetahui siapakan diantara hamba (pribadi) yang tulus dalam memperjuagkan anjuran kebaikan dan larangan kejahatan, sebagaimana yang semua kitab-kitab agama melakukannya.

Tetapi kenapa banyak orang beragama melakukan juga kejahatan?. Ini tentu tidak bisa kita menyalahkan agamanya, perhatikanlah dengan teliti aqidah (keyakinan) apa yang ada didalam hatinya. Karena keyakinan itu akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam menyikapi keadaan yang tengah berlangsung dilingkungannya.

Masing-masing harus bertindak sesuai dengan tanggung-jawab dan porsinya. Kejahatan fisik itu urusan para penegak hukum, sedangkan kejahatan non fisik (keyakinan yang memiliki kerusakan) itu dapat ditanggulangi oleh para ustad yang mampu dan ikhlas dengan dibantu oleh aturan hukum yang mendukung terciptanya kehidupan yang melindungi setiap orang secara fisik maupun mental.

Categories: Edukasi, Politis&Politik
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: