Archive

Archive for the ‘Pemilu’ Category

Golkar paling Berpengalaman

March 29, 2009 Leave a comment

Pidato bapak Jusuf Kalla “Golkar paling berpengalaman” dalam memimpin bangasa ini, memang benar hal ini ditunjukkan dengan program pelita yang pernah dijalankannya semasa orde pak Harto. Namun jangan lupa Golkar juga paling lemah dalam hal akuntabilitas keuangan negara, hal ini dibuktikan dengan ketidakmampuan golkar untuk mengkritik pak Harto (karena sikap ewuh pakewuh) yang selalu didogmakan oleh pak Harto. Sampai sampai pak Harmokopun selalu mengatakan pada pak Harto “Sudah baik pak, Sudah terlaksana pak, semua beres pak) dan pernyataan beres lainnya sehingga yang tak berespun tidak mampu dideteksi pak Harto.

Hal ini dapat terjadi juga, karena pak Harto yang ahli strategi itu “memiliki” pendapat bahwa yang bikin kerusuhan itu harus diberantas (baca: dihilangkan).

Belum lagi para pembantunya yang selalu melaporkan sebagaimana yang dilaporkan pak Harmoko “Semua Beres Pak”.

Sudah seharusnya Golkar tidak bersikap penakut pada penguasa, dengan cara mengatakan yang belum beres ya belum beres, yang sudah terlaksana yang dijaga biar tidak digerogoti oleh pengelola yang sedang dipercaya.

Seharusnya Golkar juga memiliki pribadi yang vokal untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa, sebagaimana jalan yang telah dibuka oleh bapak Amin Rais.

Seharusnya Golkar menyiapkan orang yang senantiasa memihak pada rakyat dan tidak hanya memihak pada penguasa yang memberinya fasilitas sehingga hidupnya tidak kekurangan, kecuali rakyat yang selalu disuruh berjuang dan prihatin walaupun ditengah-tengah negara yang kaya akan sumber alam, bahkan kata bimbo; tongkat bambu yang dilempar aja bisa jadi tanaman (numbuh).

Sudah saatnya Golkar menjadi partai yang menggunakan pengalamannya disertai dengan tanggungjawab pada rakyat yang memilihnya, agar memiliki akuntabilitas, sehingga rakyat merasa dilindungi oleh Golkar.

Seharusnya Golkar juga tidak hanya berkampanye dengan memihak wong cilik saja tanpa mengawasi para kader dan wakilnya yang mungkin memiliki sifat sebagai wong licik.

Seharusnya Golkar mengkader orang-orang yang siap menjadi insan yang berkarya dan insan mampu memiliki pengawasan terhadap kinerja wakil-wakil rakyat dari Golkar yang ada di parlemen dan di pemerintahan.

Ayo Golkar janjimu kami (rakyat) tunggu buktinya.

Advertisements
Categories: Pemilu

5 Pesan buat Capress

March 23, 2009 Leave a comment

Pak / Bu Capres yang terhormat,

  1. Sebaiknya sampaikan saja apa program anda yang terbaik dengan disertai komitmen janji politik untuk mundur jika gagal terlaksana program yang digemborkan.
  2. Tidak Usah Menjelekkan Program Yang Telah Dijalankan Presiden Yang Lalu, Karena Belum Tentu Anda Yang Jalankan Akan Bisa Lebih Baik Dari Pada Anda Yang Mencaci.
  3. Mencaci adalah bukan budaya bangsa indonesia, tapi budaya bangsa preman (premanisme)
  4. Kendalikan / peliharalah partai / anggota partai bapak / ibu sekalian untuk dapat bertindak yang sopan dan elegan dalam berpolitik, karena kesalahan anggota anda akan menjatuhkan / melekat pada anda sendiri selaku ketua partai.
  5. Peliharalah keluarga anda dalam berkarya / berpolitik, karena kesalahannya akan menunjukkan ketidakmampuan anda sebagai calon pemimpin bangsa.

Categories: Pemilu

Kampanye pake uang

March 16, 2009 Leave a comment

Sistem demokrasi AS didasarkan pada asumsi one man one vote yang egalitarian. Namun, sebagaimana laiknya demodrasi, asumsi juga dihadapkan pada ketimpangan distribusi sumberdaya ekonomi. Uang berperang menjembataninya (Herbert E Alexander, Politik Uang dalam Pemilihan Presiden secara Langsung, Congressional Quarterly Press, 1980)

Paradigma investasi dalam musim kampanye politik yang saat ini tiba membuka mata publik terhadap besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berbagai jenis kampanye. Para calon anggota legislatif (caleg) atau partai politik pada kesempatan masa kampanye menggunakan segala kemampuan yang dimiliki untuk gencar bersosialisasi demi dukungan suara. Bentuk-bentuk promosi dengan pemanfaatan media luar ruang, seperti poster, spanduk atau billboard dari yang berukurang mini hingga ekstrajumbo terkesan jor-joran, mengindikasikan alokasi dana yang besar dari setiap caleg. Delapan dari sepuluh responden yang diajak oleh Litbang Kompas pekan lalu menyatakan ketidakyakinannya bahwa kampanye terbuka caleg atau parpol akan bebas dari politik uang. Di benak responden tidak mungkin seorang caleg murni menggunakan kekayaan pribadinya untuk seluruh kebutuhan kampanye yang berbiaya besar. Sumbangan atau bantuan dari pemodal/pengusaha diyakini juga berkontribusi besar. Relasi antara caleg atau parpol dan pengusaha ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi responden. Dengan prinsip hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak, keseimbangan belum tercapai. Saat kampanye, caleg lebih diuntungkan pengusaha. Pengusaha menunggu sampai setelah pemungutan suara untuk memperoleh manfaat dari dana yang dikeluarkan.

Kompas 16/03/09

Categories: Pemilu

Alasan Golput

February 7, 2009 3 comments

Belakangan ini marak isu golput (golongan puyeng tenan atau pusing sekali). Diradio, televisi, dan bahkan di pengajianpun marak kenapa orang mau golput. Mungkin orang udah puyeng kali ya’ soalnya mau pilih wakil rakyat, eh… malah wakil rakyatnya ketahuan korupsi, ketahuan selingkuh dan diadukan sama lawan selingkuhnya yang merasa tidak diakui sebagai istri yang sah, sampai kepleset penget pijat di tempat panti pijat. Panti pijat memang sudah terkenal dengan asumsi mesum, walau apapun alasan sang pasien ingin pijat.

Kembali ke masalah golput, kalau pusing milih wakil rakyat yang ga bisa dipercaya, ya sebaiknya gak usah ngajak orang lain lah, seperti ajakan gusdur yang juga dah pusing mikirin para calon anggota DPR atau para petinggi partai yang ngomong seenaknya tanpa mempertimbangkan apakah omongannya ntar bisa dilaksanain apa enggak kalau si calon udah bener-bener jadi wakil rakyat atau pemimpin, walaupun gusdur sendiri juga suka ngomong seenak perutnya, mungkin karena gusdur udah mampu melihat hal yang belum terjadi atau akan terjadi. Persis seperti sikap nabi Idris yang membunuh anak yatim dan cuek aja sambil minta jangan banyak nanya, ketika ditanya sama nabi Musa.

Perdebatan MUI tentang haramnya golput, karena MUI juga memiliki kepentingan dengan suksesnya pemilu, seperti melupakan alasan utama dibalik kemungkinan maraknya golpu pada Pemilu 2009 nanti.

Alasan golongan memilih golput antaralain;

Pertama, alasan ekonomi yang intinya sebagian kalangan yang memilih gilput sudah semakin sadar, bahwa Pemilu termasuk Pilkada, tidak menjanjikan kesejahteraan apapun bagi rakyat. Bagi mereka, selama ini terpilihnya para wakil rakyat, kepala daerah atau presiden dan wakilnya yang serba baru tidak membawa perubahan apa-apa yang bisa dedikit saja meningkatkan kesejahteraan rakyat. Padahal alasan masyarakat untuk memilih adalah sederhana, yaitu begitu mereka mencoblos atau mencentang, maka kemudian kesejahteraan mereka bisa menjadi lebih baik dengan pemerintahan terpilih, sebagaimana disampaikan oleh pengamat politik J. Kristiadi. Sedangkan kenyataannya bahwa Kompas 2/2/2009, menemukan adanya ruang yang sangat luas dan terkadang manipulatif antara Pemilu dan kesejahteraan itu.

Kedua, alasan ideologis, bagi calon pemilih yang golput dengan alasan ini, Pemilu tidak pernah menjanjikan perubahan apapun. Pasalnya, demokrasi (pemilu) hanya semakin mengokohkan sekularisme. Padahal sekularismelah yang selama ini menjadi biang dari segala krisis yang terjadi. Sekularisme sendiri merupakan “akidah” yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Sedangkan menurut masyarakat muslim, sekularisme telah nyata menjauhkan syariah Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan masyarakat (ekonomi, politik, pendidikan, peradilan, sosial, dll). Padahal masyarakat Indonesia yang muslim sesungguhnya menyetujui penerapan syariah Islam itu di negeri ini. Hal ini telah dibuktikan oleh survei yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga survei seperti PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2001), Majalah Tempo (2002), Roy Morgan Research (2008), LSM Setara ( 2008 ) dll. yang rata-rata menunjukkan bahwa 70-80% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan syariah Islam dalam negara.

Tapi rasanya tidak masuk akal kalau orang mengerti atau paham tidak mau memilih (golput), lah ntar kalau orang-orang yang tidak mengerti atau sarat dengan kepentingan kelompoknya sendiri yang milih, sedangkan yang dipilih adalah calon-colon yang tidak amanah, wah… kan… yah malah repot toh…. karena nanti kebijakan negara akan keluar dari orang-orang yang tidak amanah, bisa bahaya khan…

menurut saya sih… lebih baik milih aja walaupun milihnya yang terbaik diantara yang yang kurang baik, tapi minimal dapat meminimalisir kecurangan berkembang dinegari yang katanya kaya tapi rakyatnya miskin ini, kecuali hanya segelintir orang saja yang mampu membeli rumah dengan harga mulai dari 2 milyar sebagaimana yang ditawarkan terus menerus oleh PT Agung Sedayu Group di tengah kondisi perekonomian yang katanya sulit.

Seharusnya ada kontrak politik antara calon wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya. Jika ternyata sang calon tersebut tidak mampu membuktikan janjinya yang digemborkan dalam kampanye maka colon tersebut harus punya rasa malu dan mundur dari wakil rakyat, karena sudah tidak mampu lagi menjadi wakil rakyat. Soalnya masih banyak (menurut saya) manusia Indonesia yang dapat memikul amanah dan punya rasa malu jika tidak berhasil, bukanya malah larut dengan sistem korup yang berkembang di parlemen yang katanya institusi terhormat , namun masih diisi oleh orang-orang tidak terhormat dengan segala kecurangannya yang ditemukan oleh para penyidik KPK.

Dan juga para elite partai seharusnya tidak usah gerah atau marah-marah ketika ada anggota (anak buahnya) di DPR yang mengaku menerima uang suap. Ciri manusia terhormat adalah membuktikan isu dengan kebenaran yang sarat dengan fakta-fakta, bukan dengan emosi dan memecat anggotanya yang ingin berbuat jurur. Keep accountibility in all public institution.

Categories: Pemilu