Renstra-Strategi

Sebuah organisasi memiliki struktur otoritas dan disebut sebagai birokrasi yang didasarkan atas peraturan-peraturan yang disepakati, jelas, rasional serta posisi-posisi yang terpisah atau memiliki pemisahan fungsi yang jelas dari orang-orang yang mendudukinya1.

Konsep birokrasi yang rasional sangat mengandalkan peraturanperaturan (rule) dan prosedur yang kesemuanya dimaksudkan untuk membantu tercapainya tujuan dan terlaksananya nilai-nilai atau norma-norma yang diinginkan2. Birokrasi pada hakekatnya mengandung makna pengorganisasian
yang tertib, tertata dan teratur dalam hubungan kerja yang berjenjang serta mempunyai prosedur kerja yang tersusun jelas dalam suatu tatanan organisasi (Max Weber).
Birokrasi menghadapi tugas ganda, disatu pihak birokrasi harus mampu melakukan kiat-kiat strategik dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat (outward looking), dipihak lain birokrasi harus mampu meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam lingkungannya (inward looking). Kedua peran birokrasi dimaksud tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri dan bergantian, tetapi harus dilakukan secara simultan. Manakala birokrasi menitikberatkan pada peningkatan pelayanan masyarakat terlebih dahulu baru kemudian peningkatan sumberdaya manusia, maka akan sangat sulit memenangkan persaingan dalam era global ini. Sebaliknya jika peningkatan kualitas sumberdaya manusia didahulukan, maka upaya penyederhanaan prosedur (debirokratisasi) tidak akan berarti, karena kemungkinan yang bersangkutan akan sangat sulit memahami apa yang dikehendaki oleh debirokratisasi. Dengan demikian peningkatan pelayanan
kepada masyarakat harus dilakukan secara bersamaan dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia.
Kesepakatan global dan regional mengarah pada dibukanya semua jenis jasa bagi perdagangan dunia (broadening) dengan tingkat liberalisasi (depending) sebesar 100 persen. Dalam hubungan ini, birokrasi harus mampu mengantisipasi kecenderungan baru, dan siap melakukan perubahan dan penyesuaian (reformasi) yang diperlukan, sehingga birokrasi mampu memberikan kontribusi yang tinggi bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan bangsa.
Birokrasi masa depan yang dipandang lebih mampu adalah suatu sistem birokrasi yang lebih mendekati sifat-sifat birokrasi Weber serta lebih terpisah dari kekuatan politik. Birokrasi masa depan harus menggunakan pola otoritasi yang amat terdesentralisasi, agar lebih mampu melaksanakan tugas-tugas birokrasi secara baik. Seiring dengan perubahan struktur birokrasi, prosedur juga akan mengalami perubahan. Birokrasi harus lebih berfungsi sebagai fasilitator, bukan pelaksana pembangunan, yaitu dengan berorientasi pada etos pelayanan masyarakat dan produktivitas.
Menghadapi era globalisasi dan regionalisasi, menjadi keharusan bagi pelaku birokrasi untuk selalu mengkaji gejala-gejala yang sedang dan akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan kewirausahaan (entrepreneurship). Hal ini karena globalisasi yang melanda dunia berawal dari ekonomi, yang akhirnya menembus seluruh bidang kehidupan.

1 Sofian Effendi, 1994
2 Azhar Kasim, 1993

Sosok perilaku birokrasi yang diperlukan dalam era globalisasi adalah entrepreneurial bureaucracy, dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. Sensitif dan responsif terhadap peluang dan tantangan baru yang timbul akibat liberalisasi perdagangan;
  2. Memiliki kemampuan untuk mencari, melihat dan memanfaatkan peluang dalam rangka        memperoleh keuntungan, dengan memperhatikkan sumbersumber baru yang potensial;
  3. Memiliki kemampuan mengambil risiko, sekaligus berusaha meminimumkannya, suka pada tantangan;
  4. Memiliki pandangan atau visi yang jauh ke depan dan berfikir sistemik;
  5. Mampu melaksanakan terobosan-terobosan, bekerja keras, ulet, tekun, sabar, tabah, optimis, enerjik, berinisiatif, memiliki motivasi yang kuat, kreatif, inovatif, fleksibel, memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga mampu menerima tanggung jawab, dan tidak terpaku pada kegiatan-kegiatan rutin yang bertumpu pada fungsi instrumental;
  6. Memiliki kemampuan yang banyak, serba bisa, memiliki banyak sumber/mengetahui banyak hal;
  7. Mampu mengubah sumber kegiatan yang kurang produktif menjadi kegiatan yang lebih produktif;
  8. Mampu mendayagunakan seluruh sumberdaya yang ada dalam satu bauran (resources mix) dalam rangka mencapai produktivitas kerja;
  9. Mampu bergaul dengan orang lain, menerima saran dan kritik termasuk bersikap positif terhadap orang lain, serta mampu memimpin sesuai dengan situasi dan kondisi atau memiliki kepemimpinan situasional.

Renstra dengan Manajemen Strategi(download)

Strategi Pencapaian VISI-MISI dengan SWOT (download)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: